
Judul Buku: Where the Mountain Meets the Moon (Tempat Gunung Berjumpa Rembulan)
Pengarang: Grace Lin
Penerjemah: Berliani M. Nugrahani
Bahasa: Indonesia terjemahan
Penerbit: Atria
Tebal Halaman dan ukuran: 266 + vi
Tahun Terbit: 2010
ISBN: 978-979-024-460-3
Pada dahulu kala, hiduplah seorang gadis kecil bernama Minli dengan kedua
orang tuanya di kaki gunung yang hitam dan gersang. Desanya suram dan
cokelat karena kemiskinan dan kesulitan yang terus melanda. Saking
gersangnya, tidak ada satupun tanaman dan binatang yang hidup di gunung
itu. Tanahnya kering dan harus selalu dialiri air agar dapat ditanami.
Hanya Minli yang tidak suram dan cokelat, rambutnya hitam dan pipinya
merah berseri. Ini karena ayahnya selalu menceritakan dongeng-dongeng
yang menarik mengenai gunung hitam mereka yang disebut Gunung Nirbuah,
hakim harimau yang kejam, serta kakek rembulan yang mengetahui
segalanya.
Hingga suatu hari Minli memutuskan untuk merubah peruntungan di desanya.
Berbekal tekad dan keinginan yang kuat, berangkatlah Minli meninggalkan
rumah dalam perjalanannya mencari kakek rembulan. Perjalanan panjang
nan menakjubkan yang merupakan jalinan kisah dari dongeng-dongeng
ayahnya serta orang-orang yang ditemui selama pencariannya.
Pertama kali melihat buku ini, saya langsung tertarik pada covernya yang
didominasi oleh warna kesukaan saya, biru. Ditambah lagi ornamen
berwarna warni khas negeri tirai bambu, serta gambar gadis Cina yang
menaiki naga besar berwarna merah. Melihat judulnya, “Where the Mountain
Meets the Moon”... sepertinya puitis dan romantis, cocok untuk orang
melankolis seperti saya. Sekali pandang saya tidak terlalu yakin kalau
ini buku untuk anak-anak, ditambah lagi tidak ada sinopsis untuk
menggambarkan isi buku. Tapi ini semakin menambah keinginan saya untuk
membaca. Akhirnya, rasa penasaran mengalahkan segalanya dan sah-lah buku
ini menjadi milik saya.
Memang tidak salah, buku ini indah, untuk kalangan novel terjemahan
anak-anak yang biasanya hanya hitam putih, novel ini semi berwarna.
Halaman-halamannya, walaupun tidak semua, dihiasi ornamen cina berwarna
biru serta ada beberapa halaman yang dipenuhi gambar full colour. Dengan
kertas yang ringan dan ukuran sebesar 20cm x 13cm membuat buku ini
nyaman untuk dipegang. Lalu, ukuran huruf yang digunakan cukup besar dan
spasi antar baris cukup lebar membuat buku ini enak di mata.
Jalan cerita yang ada mudah dimengerti selayaknya buku anak-anak tanpa
makna ganda. Kata-kata dituliskan dan diceritakan secara gamblang
sebagaimana adanya membuat buku ini mudah dibaca dan tidak membutuhkan
konsentrasi tinggi. Cocok sebagai bacaan ringan sembari minum kopi di
sore hari.
Cerita di dalam buku ini adalah kumpulan dongeng-dongeng negeri Cina
yang saling terhubung satu sama lainnya. Dengan apiknya, Grace Lin bisa
membuat alur cerita yang luwes dan mengalir. Melalui berbagai dongeng di
buku ini, digambarkan bahwa setiap hal itu berhubungan, bagaikan diikat
benang takdir berwarna merah.
Karakter Minli yang optimis dan senang menolong orang membuatnya bertemu
dengan banyak orang dan memahami banyak hal. Tentang gunung Nirbuah
yang katanya berasal dari hati seekor naga yang patah hati. Naga yang
terlahir dari lukisan. Hakim kejam dengan julukan Hakim Harimau yang
mencari kertas kebahagiaan. Hingga Kakek Rembulan yang bertugas untuk
mengikat benang takdir manusia.
Akhirnya sangat indah dan membuat saya meneteskan air mata karena
perasaan sesal atas kelemahan saya sebagai manusia. Ini adalah rahasia
kebahagiaan, jawaban atas pertanyaan Minli kepada Kakek Rembulan tentang
cara mengubah peruntungan di desanya. Apakah itu? Silakan cari dan baca
novelnya. Cukup menarik jika ingin bacaan yang ringan dan penuh dengan
dongeng
Rating:4.5/5